Analisis Saham - Alibaba Group (BABA)
Aries Yuangga, Wakil Penasihat Berjangka
Alibaba Group (NYSE: BABA) kini berada di posisi strategis untuk memimpin revolusi AI di Tiongkok. Keberhasilan model DeepSeek-R1 beberapa waktu lalu menunjukkan potensi besar talenta lokal dalam mengembangkan AI. Meskipun bukan Alibaba yang menciptakan DeepSeek-R1, kemunculan model tersebut membuktikan betapa kuatnya basis sumber daya manusia di Tiongkok. Tak mau kalah, Alibaba baru saja merilis model AI terbarunya, QwQ-32B, yang berhasil menyaingi kinerja DeepSeek-R1 namun dengan ukuran jauh lebih kecil—hanya 32 miliar parameter. Kombinasi kekuatan data, skala bisnis, sumber daya finansial, akses ke insinyur terbaik, dan dukungan pemerintah membuat Alibaba memiliki keunggulan unik dibanding kompetitor global. Semua faktor ini bahkan membuka peluang Alibaba untuk menjadi salah satu, atau bahkan the largest company di dunia, apalagi jika melihat kondisi ketidakstabilan politik di Amerika Serikat yang kian meningkat.
Berdasarkan grafik saham saat ini:
Analisis Teknikal
Saham BABA meningkatkan kinerja baik sejak awal tahun hingga hampir 70%, menciptakan kenaikan 94% secara YoY.
Bullish trend dalam jangka pendek pun ditegaskan dengan adanya uptrendline yang tercipta sejak awal Maret lalu.
Pasca membentuk higher high di area $148, ada kemungkinan bagi BABA untuk retrace ke area fibonacci 50% yang juga menjadi uptrend line sebelum kembali rally.
Support selanjutnya berada pada $140 dan $130.
Setup Trading
Rentang Beli: area $138-$142 yang merupakan area key level.
Stop Loss (SL): Di level $124, di bawah support $120, untuk mengurangi risiko jika harga terus menurun.
Target Profit (TP): Ada tiga target harga yaitu $150, $160 serta $170 sebagai area resistance utama.
Potensi Keuntungan dan Kerugian
Potensi Kerugian: Jika membeli di median rentang beli, atau sekitar level $140 dan harga turun ke SL ($124), kerugian potensial $16 per saham, atau sekitar -11.43%
Potensi Keuntungan:
Ke target pertama ($150): potensi keuntungan $10 per saham, sekitar 7.14%.
Ke target kedua ($160): potensi keuntungan $20 per saham, sekitar 14.29%
Ke target ketiga ($170): potensi keuntungan $30 per saham, sekitar 21.43%
Perlu diingat bahwa ini adalah analisis teknikal berdasarkan data saat ini dan dapat berubah dengan dinamika pasar. Selalu lakukan penelitian dan pertimbangan sendiri sebelum membuat keputusan investasi atau trading.
Keunggulan QwQ-32B: Kecil, Hemat, dan Tetap Hebat
QwQ-32B adalah model AI terbaru Alibaba yang dirancang untuk kemampuan penalaran tingkat tinggi. Hebatnya, model ini mampu menandingi performa model AI besar seperti DeepSeek-R1, namun dengan konsumsi sumber daya jauh lebih efisien. Jika DeepSeek-R1 membutuhkan sekitar 1,5 terabyte GPU memory, QwQ-32B hanya butuh sekitar 24 GB saja. Efisiensi ini membuat model milik Alibaba jauh lebih terjangkau dan mudah diakses oleh banyak perusahaan, baik untuk digunakan secara lokal maupun lewat layanan cloud.
Keputusan Alibaba untuk membuka akses QwQ-32B sebagai open-source juga memperluas pengaruhnya di ekosistem AI Tiongkok. Dengan begitu, Alibaba tak hanya menjadi pemain besar, tetapi juga fondasi bagi perkembangan AI di masa depan.
Kinerja Keuangan yang Kian Solid
Dari sisi keuangan, Alibaba menunjukkan kinerja positif yang memperkuat ambisinya di bidang AI. Pada kuartal terakhir, pendapatan Alibaba tumbuh 8% menjadi sekitar $38,38 miliar. Segmen bisnis cloud Alibaba juga meningkat 13% secara tahunan, didorong oleh lonjakan penggunaan layanan AI di Alibaba Cloud. Ini membuktikan bahwa strategi AI Alibaba sudah mulai berbuah manis dan mendorong pertumbuhan bisnis secara keseluruhan.
Ekosistem AI Terpadu: Kekuatan Alibaba di Tiongkok
Berbeda dengan pendekatan pasar bebas di negara-negara Barat, Tiongkok memilih strategi terpusat dalam pengembangan AI. Pemerintah Tiongkok menyatukan dunia akademisi, lembaga riset, dan perusahaan besar seperti Alibaba dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Alibaba mendapat akses ke data dalam jumlah besar, riset dari laboratorium negara, hingga berbagai subsidi. Pendekatan ini menciptakan siklus positif: semakin banyak riset dan terobosan yang lahir di Tiongkok, semakin kuat pula posisi Alibaba di garis depan perkembangan AI. Alibaba bahkan terpilih menjadi bagian dari tim perumus standar nasional untuk model bahasa besar (LLM) di bawah laboratorium AI Shanghai yang didukung negara.
Ketahanan dari Sisi Chip dan Semikonduktor
Kekuatan Alibaba dalam AI sangat bergantung pada chip dan GPU canggih. Namun, sanksi dari AS pada 2022 yang membatasi ekspor chip dan alat manufaktur semikonduktor ke Tiongkok sempat menjadi tantangan besar. Sebagai respons, Tiongkok mempercepat program kemandirian chip nasional, salah satunya lewat “Big Fund III” senilai $47,5 miliar. Program ini mencakup investasi di peralatan fabrikasi hingga bahan baku chip, bahkan berambisi menyaingi dominasi ASML di teknologi EUV. Hasilnya, ketergantungan Alibaba pada pemasok luar negeri kian berkurang, memperkuat ketahanan dan keberlanjutan ambisi AI-nya.
Peluang Alibaba Menyalip Raksasa Teknologi Barat
Pada 2022, Alibaba tercatat sebagai retailer e-commerce terbesar di dunia dengan transaksi sekitar $780 miliar. Di sektor cloud, Alibaba menguasai sekitar 34% pangsa pasar di Tiongkok. Meski pasar domestik Tiongkok secara rata-rata memiliki daya beli lebih rendah dibanding negara Barat, potensi pertumbuhan Alibaba tetap besar seiring menguatnya posisi Tiongkok di kancah global. Kekuatan Alibaba di bidang AI memungkinkan perusahaan ini bersaing bahkan melampaui Microsoft dan Google dalam gelombang teknologi berikutnya. Keunggulan Alibaba terletak pada sinergi antara inovasi teknologi, ekosistem bisnis yang luas, serta perlindungan dan dukungan dari pemerintah. Posisi Alibaba sebagai pemain utama dalam ekonomi digital Tiongkok membuatnya sulit disaingi, baik oleh pemain lokal maupun asing.
Tantangan dan Risiko yang Harus Diwaspadai
Meski prospeknya cerah, Alibaba tetap menghadapi risiko besar, terutama dalam menjaga hubungan baik dengan pemerintah Tiongkok. Kita masih ingat bagaimana kritik kecil Jack Ma dulu berdampak besar hingga melumpuhkan sebagian besar kerajaan bisnis Alibaba. Selain itu, persaingan dari raksasa Tiongkok lain seperti Baidu dan Tencent juga tak bisa diremehkan. Jika mereka mampu menghadirkan model AI sekelas atau bahkan lebih baik dari Alibaba, maka dukungan pemerintah bisa saja terbagi.
Pandangan Analis
Saham Alibaba Group Holding Limited (BABA) ditutup di level $142,74 pada 18 Maret 2025, turun 3,27%. Namun, di perdagangan setelah jam bursa, saham naik tipis ke $143,07. Berdasarkan analisis 41 analis dalam 90 hari terakhir, mayoritas memberikan rating "Strong Buy" sebanyak 30 analis, 8 analis "Buy", dan 3 analis "Hold". Tidak ada yang merekomendasikan "Sell" atau "Strong Sell". Rata-rata target harga saham Alibaba berada di $161,85, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 13,39% dari harga saat ini. Wall Street masih optimis terhadap prospek jangka panjang Alibaba.
Kesimpulan
Alibaba berpeluang besar menjadi perusahaan terbesar di dunia berkat dominasi di e-commerce, cloud, dan terobosan di bidang AI. Model AI terbaru mereka, QwQ-32B, menunjukkan efisiensi tinggi dengan performa setara model besar. Didukung ekosistem AI terintegrasi, akses data besar, sumber daya finansial, serta dukungan pemerintah Tiongkok, posisi Alibaba semakin kokoh. Kinerja keuangan solid dan ketahanan dari sisi chip memperkuat ambisinya. Meski ada tantangan dari regulasi dan kompetitor lokal, potensi Alibaba menyalip raksasa teknologi Barat semakin nyata. Analis Wall Street optimis, dengan rata-rata target harga $161,85 atau potensi naik 13,39% dari harga saat ini.
*Disclaimer:
This information is provided for general information purposes only. Consider your investment objectives, financial resources and other relevant circumstances carefully before investing. This is not an invitation or an offer to invest, nor is it financial advice or a recommendation to buy or sell any investment.