Analisis Saham - FedEx Corporation (FDX)

Aries Yuangga, Wakil Penasihat Berjangka

Tanggal 21 Maret 2025 menjadi hari yang berat bagi para pemegang saham FedEx (NYSE: FDX) setelah harga sahamnya turun sekitar 7% usai laporan keuangan kuartal ketiga tahun fiskal 2025 dirilis. Meskipun pendapatan tercatat melebihi ekspektasi analis, laba per saham justru melemah, bahkan di bawah target yang diperkirakan. Selain itu, manajemen juga terpaksa merevisi proyeksi keuangan untuk tahun ini ke arah yang lebih rendah. Kondisi ekonomi global turut memperburuk situasi, menambah tantangan jangka pendek bagi FedEx. Namun, di balik kabar negatif ini, justru tersimpan peluang menarik. Jika melihat valuasi saat ini, saham FedEx terlihat sangat murah. Penurunan harga saham sejak Desember lalu mencapai 18,1%, jauh lebih dalam dibanding penurunan indeks S&P 500 yang hanya 6,3%. 

Berdasarkan grafik saham saat ini:

Analisis Teknikal

  • FDX baru saja anjlok dalam dengan penurunan 7% pasca laporan keuangan terbaru dirilis Jumat lalu, hal ini menambah tekanan kinerja menjadi -18% sejak awal tahun.

  • Penurunan FDX ini secara teknikal disebabkan adanya down trendline yang tercipta sejak Februari lalu, hingga mencapai level support kuat di area $220.

  • Ada potensi FDX yang baru mencapai level support kuat sejak Oktober 2023 ini akan mampu menciptakan reversal di waktu dekat.

  • Support selanjutnya berada pada $225 dan $220.

Setup Trading

  • Rentang Beli: area $220-$230 yang merupakan area key level.

  • Stop Loss (SL): Di level $215, di bawah support $220, untuk mengurangi risiko jika harga terus menurun.

  • Target Profit (TP): Ada tiga target harga yaitu $235, $250 serta $265 sebagai area resistance utama.

Potensi Keuntungan dan Kerugian

  • Potensi Kerugian: Jika membeli di median rentang beli, atau sekitar level $225 dan harga turun ke SL ($215), kerugian potensial $10 per saham, atau sekitar -4.44%.

  • Potensi Keuntungan:

    • Ke target pertama ($235): potensi keuntungan $10 per saham, sekitar 4.44%.

    • Ke target kedua ($250): potensi keuntungan $25 per saham, sekitar 11.11%

    • Ke target ketiga ($265): potensi keuntungan $40 per saham, sekitar 17.78%

Perlu diingat bahwa ini adalah analisis teknikal berdasarkan data saat ini dan dapat berubah dengan dinamika pasar. Selalu lakukan penelitian dan pertimbangan sendiri sebelum membuat keputusan investasi atau trading.

Kinerja Keuangan: Gabungan Kabar Baik & Tantangan Berat

Pada kuartal ketiga 2025, FedEx mencatatkan pendapatan sebesar $22,16 miliar, naik 1,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya dan melampaui ekspektasi analis sebesar $320 juta. Namun, beberapa lini bisnis utama menunjukkan pelemahan signifikan. Segmen FedEx Freight misalnya, mengalami penurunan pendapatan dari $2,21 miliar menjadi $2,09 miliar. Pengiriman harian rata-rata juga turun 4,6% dan pendapatan per kiriman ikut menyusut, dipicu oleh surutnya aktivitas ekonomi dan berkurangnya biaya tambahan bahan bakar. Di sisi lain, bisnis FedEx Express yang merupakan kontributor terbesar, mencatat kenaikan pendapatan 2,7% menjadi $19,18 miliar. Namun, penurunan drastis terjadi pada pengiriman kargo domestik di AS akibat berakhirnya kontrak dengan US Postal Service, yang menyebabkan volume pengiriman anjlok lebih dari 60%. Meskipun begitu, layanan paket domestik di AS justru tumbuh 6,1%, didorong oleh lonjakan e-commerce dan pergeseran waktu Cyber Week. Paket ekspor internasional juga mencatatkan kenaikan, meski pendapatan domestik internasional turun tipis.

Laba & Proyeksi: Di Bawah Ekspektasi, Tapi Masih Ada Harapan

Di sisi laba bersih, FedEx memang mencatat peningkatan dari $879 juta menjadi $909 juta. Namun, angka ini masih jauh dari target analis. Biaya restrukturisasi yang naik menjadi $179 juta turut menekan kinerja. Kabar baiknya, beban bahan bakar berhasil ditekan cukup signifikan dari 5,24% menjadi 4,01% dari total pendapatan. Laba per saham yang disesuaikan naik dari $3,86 menjadi $4,51, tapi tetap di bawah ekspektasi pasar. Secara total, laba operasional, arus kas, dan EBITDA menunjukkan perbaikan tipis, tapi jika ditarik sepanjang sembilan bulan pertama 2025, performa perusahaan masih tertekan akibat hilangnya kontrak besar dan lesunya ekonomi global.

Revisi Proyeksi & Valuasi: FedEx Terlihat Murah di Semua Aspek

Manajemen kini memperkirakan pendapatan tahun fiskal 2025 bisa stagnan atau bahkan sedikit turun, berbeda dengan proyeksi awal yang lebih optimis. Target laba per saham juga direvisi ke rentang $18 hingga $18,60 dari sebelumnya $19 hingga $20. Jika mengambil titik tengah proyeksi ini, laba bersih yang disesuaikan diperkirakan mencapai $4,43 miliar. Sementara itu, arus kas operasional bisa menyentuh $11,79 miliar dan EBITDA sekitar $12,99 miliar. Dengan perhitungan ini, valuasi saham FedEx saat ini masuk dalam kategori deep value, bahkan jauh lebih murah dibanding kompetitornya, UPS, baik dari sisi laba, arus kas, hingga rasio harga terhadap nilai buku.

Strategi Efisiensi & Buyback Jadi Sinyal Positif

FedEx juga punya katalis positif lewat program efisiensi besar-besaran bertajuk DRIVE Initiative yang ditargetkan menghemat biaya operasional hingga $4 miliar di tahun 2025. Program ini mencakup pemangkasan biaya overhead, optimalisasi rute pengiriman, konsolidasi fasilitas, hingga perampingan tenaga kerja. Salah satu contohnya, perusahaan memangkas sekitar 1.500 pegawai di Eropa untuk efisiensi biaya $125 juta sampai $175 juta per tahun. Hingga kuartal terbaru, inisiatif ini sudah berkontribusi pada penghematan biaya tahunan sekitar $600 juta. Penghematan terbesar berasal dari jaringan darat dan udara serta pemangkasan biaya di sisi administrasi dan IT. Selain itu, kepercayaan manajemen terhadap masa depan FedEx juga terlihat dari agresifnya program pembelian kembali saham (buyback). Setelah program buyback senilai $5 miliar di 2021, FedEx kembali menggelontorkan $5 miliar pada 2024. Total saham yang sudah dibeli kembali selama sembilan bulan pertama 2025 mencapai 8,9 juta lembar senilai $2,5 miliar. Masih ada sisa dana $2,6 miliar untuk buyback lanjutan.

Pandangan Analis

Harga saham FedEx (FDX) ditutup di level $230,33 pada 21 Maret 2025, turun 6,45% setelah laporan keuangan yang mengecewakan. Meski begitu, sentimen analis Wall Street masih positif dengan rata-rata rating "Buy" (4,06) dari 33 analis dalam 90 hari terakhir. Rinciannya, 17 analis merekomendasikan Strong Buy, 4 Buy, 10 Hold, 1 Sell, dan 1 Strong Sell. Target harga rata-rata saham FedEx dipatok di $292,03, mencerminkan potensi kenaikan 26,79% dari harga saat ini. Pasar masih optimis terhadap prospek jangka panjang FedEx di tengah tantangan sementara.

Kesimpulan

Laporan keuangan Q3 2025 FedEx memicu penurunan saham FDX hingga 7%, menambah pelemahan tahunan menjadi 18%. Meski laba per saham di bawah ekspektasi, pendapatan justru melebihi target. Revisi proyeksi laba dan kondisi ekonomi global jadi tantangan jangka pendek. Namun, valuasi saham kini tergolong murah, bahkan lebih rendah dari UPS. Secara teknikal, FDX berada di area support kuat $220-$230, membuka peluang rebound dengan potensi target hingga $265. Program efisiensi DRIVE dan buyback agresif jadi katalis positif. Dengan target rata-rata analis di $292, FedEx masih menawarkan potensi upside menarik bagi investor jangka menengah-panjang.




*Disclaimer:

This information is provided for general information purposes only. Consider your investment objectives, financial resources and other relevant circumstances carefully before investing. This is not an invitation or an offer to invest, nor is it financial advice or a recommendation to buy or sell any investment.

Previous
Previous

Analisis Saham - Micron Technology (MU)

Next
Next

Analisis Saham - International Business Machines Corporation (IBM)